Tanggal 4 Juli 2008 Perjalanan ke pulau Belitung. Setelah sebelumnya memesan tiket pesawat (reservasi) untuk keberangkatan tanggal 4 Juli 2008, maka tepat jam 5 subuh, kami semua berkumpul di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Kami berenam, lalu telah berada di dalam pesawat Sriwijaya Air sekitar pukul 06:30 WIB. Tepat pukul 06:45 WIB pesawat Sriwijaya Air take off / berangkat menuju bandara Tanjung Pandan, Belitung. Tiba di Bandara Tanjung Pandan, Belitung. Saat jam menunjukkan waktu 7:15 WIB, dari balik jendela pesawat, saya sempat mengamati pantai di pulau Belitung tepat di bawah kami. Tepat pukul 7:35 WIB, pesawat Sriwijaya Air, yang membawa kami tiba di bandara Tanjung Pandan, begitu menuruni tangga pesawat Sriwijaya Air, kami langsung disambut oleh sinar matahari pagi yang hangat, langit cukup cerah agak sedikit berawan. Saya lalu menghubungi tour guide kami (Pak Kusumah) via handphone, mengabari kedatangan kami sembari kami menunggu barang / bagasi kami muncul di railway bagasi dalam bandara Tanjung Pandan. Cukup lama juga kami menunggu bagasi kami, saya dan rekan-rekan sempat ngobrol tentang masih manualnya sistem bagasi di bandara Tanjung Pandan. Tak lama berselang, saya disapa oleh pak Kusumah, yang menjemput kami, sebelumnya saya memberikan ciri-ciri kami ke Pak Kusumah, via handphone. Menuju Hotel Lor In, Belitung Barat. Pukul 8:05 WiB, kami telah berada dalam kendaraan, mobil tipe kijang kapsul, yang disupiri oleh pak Kusumah, sekaligus bertindak sebagai tour guide kami hari ini. Wow, jalanan dari bandara menuju hotel Lor In, terlihat sangat sepi, dan jalannya berkesan baru dibuat / diaspal. Sepanjang jalan kami banyak sekali bertanya dan ngobrol dengan pak Suma (panggilan pak Kusumah), tentang pulau Belitung ini. Di kiri kanan terlihat beberapa lubang / kubangan bekas tambang timah yang dilakukan oleh masyarakan pulau Belitung secara tradisional. Oiya, provinsi Bangka-Belitung sangat terkenal dengan bahan tambang timahnya. Hehehe.. sempat ngobrol dengan rekan-rekan, bekas galian tambang itu kayaknya bisa dijadikan background untuk fotografi khususnya model dan infra red. Tapi, kami tidak menghentikan perjalanan mobil, karena kepingin cepat sampai di hotel. Hotel Lor In, Belitung Barat. Tepat pukul 8:30 WIB, kami tiba di hotel Lor In, segera kami melakukan proses check-in, dan langsung menuju kamar hotel kami masing2x, di kamar hotel saya lalu berganti pakaian, mengenakan celana pendek / celana basket, serta menggunakan kaos oblong. Langsung menuju ke lobi, kami lalu kembali naik mobil, perlangkapan kamera telah kami siapkan semuanya. Hehehehe.. ternyata rekan-rekan semuanya mengenakan pakaian yang hampir sama (celana pendek + kaos oblong), rupanya kita semuanya satu pikiran.. hehehehe.. bagus. Pantai Tanjung Tinggi. Begitu kami keluar dari hotel, dengan mengendarai mobil yang dikemudikan oleh pak Suma, pantai indah berbatu besar langsung menyambut kami. Wahh.. luar biasa.. indah sekali, unik banget.. itulah yang rata-rata kami ucapkan. Tak sabar juga, saya langsung menyiapkan kamera saya, memasang baterai, memory card, lensa dan filter hoodnya. Deg-degan juga, tapi senang banget. sekitar 15 menit berkendaraan, kami tiba di pantai Tanjung Tinggi. Kami berenam segera turun dari mobil, sambil membawa peralatan kamera. Saya segera berjalan menuju ke pasir pantai, pemandangan yang luar biasa, pasir putih, ombak yang kecil, angin yang cukup kencang segera membuat kami berenam "menyebar" mencari posisi strategis untuk mulai memotret. Hahaha.. benar-benar bagai orang yang lapar.. semuanya berkeliaran ke berbagai posisi di sepanjang pantai. Sayangnya, cuaca tiba-tiba mulai gelap / mendung. Tak lama kemudian hujan gerimis mulai turun, buru-buru saya dan rekan-rekan segera bergegas balik lagi ke mobil kami. Saya sempat memotret kondisi sesaat sebelum hujan mendatangi kami. berikut ini fotonya. Tanjung Kelayang. Sekitar pukul 10:00 kami langsung menuju ke Tanjung Kelayang, dengan tujuan untuk makan siang. Makan siang kami putuskan dipercepat karena cuaca sedang tidak mendukung / hujan. Sekitar pukul 10:10 WIB kami tiba di Tanjung Kelayang, wah cuaca di tanjung ini lumayan cerah, hujan belum turun di sini. Segera kami buru-buru turun dari mobil sambil membawa kamera dan perlengkapannya. Wow, bagus banget pantainya, kelihatan ada beberapa yang tertambat di pinggir pantai, dekat sekali, ternyata saat itu memang air pantai lagi surut, surutnya air membuat pasir pantai menjadi unik, muncul gundukan-gundukan kecil kelihatannya seperti hasil kerjaan hewan laut yang kecil, saya menduga ini mirip cacing laut. Karena langit kurang bersih, cukup banyak tertutup awan, lalu saya memutuskan untuk mencoba filter warna yang sengaja saya bawa, untuk antisipasi cuaca yang kurang baik. Berikut ini fotonya. Makan Siang di Tanjung Kelayang. Tidak sampai 30 menit kami motret di lokasi ini, hujan deras langsung menghampiri, segera kami berlari masuk ke dalam restoran / warung makan yang terdapat di lokasi itu. Rupanya di sini juga kami akan makan siang. hehehehe.. asyik.. ;) sambil memasukkan kamera ke dalam tas, hujan ternyata deras juga, saya sampai berpikir.. hmm.. wah.. cuaca lagi gak bersahabat. Pak Suma lalu berkata, tenang saja pak Sonny, hujan pada musim kemarau seperti ini tidak lama, paling lama hanya berlangsung 30 menit. Wah.. semangat saya langsung bangkit, begitu makan siang kami dihidangkan dimeja, makin semangat aja :) hehehehe.. Hidangan/Menu utamanya seafood, terdiri dari Udang goreng tepung, cumi goreng tepung, Kepiting saus kecap dan ikan besar mirip kakap yang digoreng dengan bumbu khusus.. wah sedapnya.. Pukul 10:45 WIB, hujan berhenti total, cuaca masih sedikit mendung, kami berenam lalu melanjutkan kegiatan fotografi di seputar Tanjung Kelayang. Pasir pantai sekarang agak terisi air. Hmm.. kembali filter gradual color yang saya bawa sangat membantu. Saya bahkan sempat "menemukan" sudut pandang unik akibat genangan air hujan di atas batu besar di pinggir pantai. Sekitar jam 11:30 WIB kami berenam kembali berkumpul di depan warung makan kami tadi, sambil menikmati air kelapa muda (kopyor), wah segarnya.. sambil menikmati angin pantai yang berhembus.. hmm.. benar-benar santai. Pak Suma, lalu minta ijin ke saya dan pak Anton, sebab pak Suma sebenarnya lagi dalam kondisi sakit, akibat 2 hari sebelumnya non stop menjadi guide tour. Beliau menawarkan kami untuk beristirahat di area pantai pribadi milik temannya (Private Beach), saya dan rekan-rekan tidak keberatan, karena sekarang memang waktunya istirahat siang / masih jam makan siang. Private Beach di Tanjung Kelayang. Sekitar 20 menit berkendaraan mobil, kami semua tiba di lokasi privat beach milik teman pak Suma. Lokasi private beach agak menjauh dari jalan raya (aspal), masuk melalui jalan tanah. Dari luar sih kelihatannya seperti semak belukar, tetapi begitu sampai di dalamnya, wah, ternyata bagus banget. Ada rumah mungil, dengan pekarangan / halaman yang luas. Benar-benar ditata dan dirawat dengan baik. Kami berenam plus pak Suma, segera menemui teman pak Suma tersebut. Ngobrol cukup lama, bersantai sembari menikmati kopi dan teh di pekarangan rumah yang teduh. Akhirnya saya dan rekan-rekan segera menuju pinggiran pantai yang berjarak hanya 10 meter dari rumah. Wow, air lautnya tenang banget, ombaknya sangat kecil. Warna air lautnya cenderung kehijauan, benar-benar kontras dengan langit biru. Sayangnya gak sampai 10 menit bermain di pantai hujan langsung turun. Kembali cuaca menjadi penghalang aktifitas kami. Hunting lagi di Tanjung Kelayang. Kali ini pak Suma digantikan oleh pak Tata, sebagai guide dan driver kami. Sekitar jam 13:00 WIB kembali kami telah berada di dalam mobil menuju ke lokasi pantai masih di seputar Tanjung Kelayang. Perjalanan hanya sekitar 15 menit. Cuaca kali ini cukup bersahabat, matahari agak tertutup awan mendung. Hujan sudah sama sekali berhenti. Tiba di lokasi, kami langsung berpencar untuk motret. Berikut ini foto-fotonya. Menunggu Sunset di Tanjung Binga. Sekitar jam 4 sore (16:00 WIB), kembali kami berada di dalam mobil menuju ke lokasi terakhir untuk hari pertama ini. Tujuannya menunggu dan motret matahari terbenan di pantai seputar Tanjung Binga. Berikut ini foto-fotonya. Jam 18:20 WIB, kami telah selesai melakukan hunting sunset, cuaca di horizon laut juga kurang begitu bagus, mendung tertutup awan cukup tebal, sehingga harapan melihat dan motret sunset yang bersih tidak terkabul. Tapi kami cukup puas, karena bisa mendapatkan beberapa sudut pandang yang bagus untuk di foto. Kembali ke Hotel Lor In. Sekitar jam 18:30 WIB kami tiba kembali di Hotel Lor In, tempat kami menginap selama kegiatan hunting ini. Wah, capek juga ya.. segera semuanya menurunkan peralatan fotografi dan beranjak menuju kamar masing-masing. Secara garis besar ruang kamarnya cukup luas, ukuran tempat tidurnya yang besar bisa untuk dua orang, ditambah fasilitas kamar mandi yang luas juga. Letak dan desain kamar mandinya sangat unik, terdapat bathtub buat berendam, dan water shower di bagian pojoknya. kamar mandinya juga disediakan peralatan lengkap seperti cermin / meja rias, hair dryer. Pokoknya komplit banget. Segera saya mandi air hangat di bagian showernya. Wah segar banget, tapi agak dingin juga soalnya angin dengan leluasa masuk ke dalam area kamar mandi ini yang desain sebagian atapnya terbuka. Sehingga saya dapat melihat langit malam. Makan Malam di Restoran Bukit Perahu. Tepat sekitar jam 19:15 WIB malam, kami berenam, diantar oleh pak Tata dengan mobil ke Restoran Bukit Perahu. Wah.. udara malam di pantai terasa segar dan sedikit hangat. Menu kali ini tetap khas laut, yaitu Sea Food. Wow, pengaruh rasa capek akibat seharian motret membuat kami berenam sanggup menghabiskan hidangan sea food yang cukup banyak itu. Waktu telah menunjukan pukul 20:15 WIB ketika kami berenam kembali ke kamar hotel Lor In. Jam 22:00 WIB sambil nonton TV di kamar dan membersihkan peralatan kamera yang sebelumnya digunakan, mata saya mulai terasa mengantuk. Akhirnya saya tertidur pulas. Niatnya sih bangun jam 4.30 subuh buat motret Sunrise. Tanggal 5 Juli 2008 Saya dikagetkan oleh bunyi alarm dari Handphone yang saya set berbunyi jam 4.30 subuh. Hmm.. AC di kamar saya ini cukup dingin juga, akhirnya saya kecilkan, lalu beranjak ke jendela kamar, melongok bentar cuaca diluar, wah.. masih sangat gelap. Hmm.. saya putuskan untuk mandi. Mandi kali ini ternyata bikin menggigil juga, soalnya udara subuh yang dingin masuk dari atap kamar mandi yang terbuka setengah itu. brrr.. Jam 05:30 WIB, saya mencoba melihat dari jendela kamar, wah.. pagi ini cuaca mendung, sinar matahari terbit tidak terlihat, kecewa juga. Tapi saya tetap keluar kamar dengan membawa peralatan kamera lengkap plus tripod, berjalan ke arah pantai di seberang hotel Lor In. Jaraknya hanya 20 meter saja, tepat berada di seberang jalan aspal yang sepi banget dari lalu lalang kendaraan bermotor. Pantainya benar-benar tenang, ombaknya sangat kecil, sangat berbeda dengan pantai Carita di wilayah Anyer, Jawa Barat. Saya lihat rekan-rekan yang lain juga telah berada di pantai, kayaknya kita semua niatnya sama, mau motret Sunrise, tapi gagal oleh cuaca mendung. Akhirnya saya memutuskan untuk memotret di seputar batu besar di pantai ini juga. Berikut fotonya. Jam 07:00 WIB, saya dan rekan-rekan berkumpul, kami segera ke ruang makan hotel yang tak jauh dari Lobby, untuk sarapan pagi. Sarapan kali ini ditemani roti bakar dan nasi goreng. Oiya, hampir lupa, di Belitung ini jenis makanan seperti sayur-sayuran dan buah-buahan termasuk yang susah didapat, ini mungkin terkait dengan jenis dan kandungan mineral tanah di Belitung, yang lebih banyak mengandung senyawa logam seperti timah. Jadi bagi anda yang ingin jalan-jalan ke belitung sebaiknya membawa sendiri buah-buahan bahkan sayur-sayuran jika anda doyan dengan sayuran. Jam 08:00 WIB, kami semua kembali ke kamar masing-masing, bersiap untuk hunting hari ini. Tepat jam 09:00 WIB, kami dijemput oleh pak Tata dengan mobil, kegiatan hari ini adalah berperahu ke pulau Burung dan pulau Lengkuas (Mercu Suar). Sekitar 15 menit perjalanan ke pelabuhan tradisional nelayan tempat perahu yang akan mengangkut kami. Sesampai di pelabuhan tradisional, air laut ternyata surutnya jauh banget, terpaksa kami harus menuruni area pantai yang kering menuju ke perahu. Berikut foto-fotonya. Sekitar jam 09:15 WIB kami telah berada di perahu yang berjalan menuju pulau Burung, perairannya cukup tenang, saya sempat memotret beberapa kali. Akhirnya jam 09:40 WIB kami tiba di pulau Burung, kali ini kami punya kesempatan selama 1 jam untuk mengexplore pantai pulau Burung yang indah ini. Bahkan saya sempat berexperimen dengan low angle sekitar 45 menit. Sempat juga dapat ide dari Anton untuk foto yang tidak biasa ini. Hahahahaha.. Jam 11:15 WIB kami naik ke perahu kembali, kali ini perjalanan via perahu dilanjutkan menuju ke pulau Lengkuas (Mercu Suar) Jam 11:35 kami tiba di pulau Lengkuas, wah.. Mercu Suarnya menarik banget, karena kami tiba saat makan siang, maka kita langsung makan siang. Menu makan siang adalah nasi kotak dengan porsi ++, hahahahaha.. isinya banyak banget buat satu orang.. Sambil makan siang, kami kenalan dengan penjaga Mercu Suar. Suasana makan siang di pulau Lengkuas terasa asyik ditemani angin laut yang cukup kencang. Selesai makan siang, saatnya mengeluarkan peralatan fotografi, langsung aja kami berenam berpencar mencari spot-spot yang bagus buat difoto. berikut foto-fotonya. Di pulau lengkuas ini matahari benar-benar terasa terik banget, tapi seperti biasa, kayaknya kalo' sudah asyik gak peduli lagi dengan sinar matahari yang menyengat kulit. Saya lalu istirahat sebentar, wah.. ditawarin minum kelapa muda yang segar sama penjaga Mercu Suar. hmm.. nikmat. Ngobrol bentar dengan beliau, lalu saya memutuskan untuk mencoba memotret dengan menggunakan filter Infra Red. Berikut foto-fotonya. Sempat motret dan bantu henny untuk motret menggunakan model, kali ini model kita adalah Venny, berikut foto-foto kegiatannya. Wah waktu benar-benar tak terasa di pulau Lengkuas ini, tahu-tahu sudah jam 16:00 WIB. Saatnya kami menuju ke pulau Aji, untuk memotret saat matahari terbenam / Sunset. Perjalanan kali ini cukup pelan, karena perahu yang kami tumpangi, melalui jalur luar pulau, yang memiliki arus air dan ombak yang cukup besar. Beberapa kali cipratan air laut membasahi kami, tapi hehehehe.. dasar anak-anak bandel, tetap aja ketawa-ketawa sambil bercanda. Tas kamera semuanya telah diamankan dengan menggunakan lapisan luar pelindung airnya. Wah main perahu dengan ombak besar seperti ini mengingatkan saya akan masa kecil.. hahahahaha.. Sekitar jam 16:35 WIB perahu kami tiba di pulau Aji, wah posisi pulau ini benar-benar strategis untuk menikmati matahari terbenam, tidak ditutupi oleh pulau yang lain. Segera saya dan rekan-rekan menurunkan peralatan fotografi, kali ini tripod saya benar-benar berfungsi penuh. Berikut foto suasana Sunset di pulau Aji. Tepat jam 18:00 saat matahari menghilang dari horison lautan karena tertutup sebagian awan, kami lalu kembali naik ke perahu untuk perjalanan kembali ke pelabuhan Traditional. Ombak masih cukup besar, tapi terlihat air laut lagi pasang sehingga perahu yang kami tumpangi bisa langsung merapat ke bagian pinggir dari pantai di pelabuhan tradisional. Capek, tapi senang banget tentunya, segera peralatan fotografi dimasukkan lagi ke bagasi mobil, lalu kami segera naik mobil, masih dikemudikan oleh pak Tata. Tujuan mobil kami adalah restoran Sea Food yang baru, lokasinya cukup jauh juga, sekitar 30 menit. Tiba di restorannya, segera kami menuruni tangga tembok menuju ke bagian dalam restorannya. Menu malam itu tetap Sea Food, hehehehehe.. Jam 19:15 WIB, selesai makan, dan sempat memesan makanan buat di bawa ke hotel (lagi ;) hehehehehehe). Lalu kami kembali ke hotel, sempat mampir untuk membeli beberapa minuman ringan dan vitamin. Jam 19:45 WIB, tiba di hotel. wah badan terasa pegal-pegal juga, sempat saya bercanda dengan pak Tata, nanya kalo' di hotel ada tukang pijit nggak ?? Hahaha.. Lalu saya dan rekan-rekan kembali ke kamar hotel masing-masing, bersih-bersih kamera dan tripod, mandi lalu kita berkumpul di kamar Anton dan Wiwied. seperti biasa, review hasil foto-foto sambil ngobrol tentang kegiatan buat besok (hari Minggunya). Tanggal 6 Juli 2008. Pagi hari saya dikagetkan oleh suara anjing yang menggonggong di samping kamar hotel saya. Wah.. udah pagi lagi rupanya, pulas juga saya tidur. Saat melirik jam, rupanya sudah jam 5.45 pagi. hmm.. telat bangun nih, tapi sekilas saya liat dari jendela kamar, langit terlihat terang.. Wah Sunrisenya bisa didapat nih, buru-buru saya ganti baju dan siapin kamera. segera saya keluar kamar menuju ke pantai di seberang hotel kami. Wah pagi ini indah banget.. langitnya benar-benar bersih, berikut foto-foto sunrisenya. Sempat bermain-main dengan siluet, berikut fotonya. Sekitar jam 7 pagi, saya dan rekan-rekan menuju ke ruang makan hotel untuk sarapan. Menu sarapannya tetap, roti bakar, nasi goreng dan mie goreng. Jam 8 kami kembali ke kamar masing-masing. Kali ini kita punya waktu 1 jam, sebelum dijemput pak Tata kembali. Saya bersih-bersih perlengkapan dan mandi, setelah itu semua pakaian dan perlengkapan dimasukkan ke dalam tas. Rencananya hari minggu ini kami semua check out dari hotel Lor In. Sekitar jam 9.30 WIB, mobil jemputan kami datang. Lalu kami memuat barang-barang dan perlengkapan fotografi kami ke mobil. Setelah melakukan proses checkout dan menyerahkan kunci kamar hotel, lalu mobil mengantar kami ke pantai Tanjung Kelayang. Tujuannya adalah untuk motret di lokasi yang di hari pertama kami gagal karena hujan. Berikut foto-fotonya. setelah dirasa cukup, kami lalu berangkat menuju kota di Belitung Barat. Tujuan utama apalagi kalau bukan makan siang sekaligus membeli oleh-oleh khas belitung. Oleh-olehnya berupa makanan seperti kerupuk udang / cumi-cumi dan sejenisnya. Semuanya asli buatan belitung, bahkan rekan-rekan sempat juga membeli sambal terasi khas Belitung di wilayah kota. Makan siang kami hari ini tepat jam 12:00 WIB, di warung makan di tengah kota, menunya tetap "serba ikan", bahkan sempat mencoba pempek khas Belitung. Jadi full wisata kuliner... hehehehe.. Sekitar jam 13:00 WIB mobil kami menuju ke tempat pak Endi, rencananya driver / pengemudi digantikan oleh pak Endi. Tapi pak Tata tetap kami ajak, karena kelihatannya pak Tata lebih mengenal wilayah belitung Barat yang akan kami kunjungi sore ini. Jam 14:00 WIB mobil kami menuju ke Bandara Tanjung Pandan, rencananya mengantar 2 orang rekan yang pulang / balik ke Jakarta hari ini. saya dan 2 orang rekan yang lain tetap melanjutkan hunting di Belitung, sampai tgl 7 Juli (senin) 2008. Jam 14:30 WIB tiba di Bandara Tanjung Pandan, wah kok masih cukup sepi ya ?? Memang pesawat Sriwijaya Air baru datang sekitar jam 16:00 WIB dari informasi pak Tata, tour guide kami. Dua orang rekan kami, segera masuk ke dalam ruang checkin bandara, setelah pamit dan salaman dengan 4 orang yg tersisa. Sedih juga mereka nggak bisa ikut terus. Setelah acara "pelepasan" di Bandara, kami berempat plus pak Endi dan pak Tata, segera melanjutkan perjalanan dengan mobil, menuju ke kota di Belitung Barat. Perjalanannya memakan waktu sekitar 45 menit, kami mampir ke desa Gantong, ke sekolah SD Muhammadiyah Gantong. Menurut info dari pak Tata sekolah ini adalah sekolah asli dari para tokoh di novel Laskar Pelangi. Bangunan sekolahnya semuanya terbuat dari kayu, keadaannya benar-benar cukup memprihatinkan. Bangunan yang atapnya sudah bolong-bolong dan hampir roboh, tetapi yang paling menggugah adalah cerita anak-anak sekolahnya yang tetap penuh semangat untuk bisa sekolah di sini. Berikut foto-foto sekolah tersebut. Perjalanan lalu kami lanjutkan menuju kota kecil Manggar di sebelah timur pulau belitung, sempat mampir sebentar untuk isi bensin, mobil kami segera menuju ke dalam kota Manggar. Mampir ke hotel di dalam kota, kami mencek fasilitas penginapan / kamar di hotel tersebut, hanya saja setelah berunding dengan rekan-rekan, akhirnya kita putuskan balik lagi ke POM Bensin tadi, karena ternyata hotel / penginapan yang ada di area pom bensinnya lebih nyaman buat kami. Kamarnyapun benar-benar bersih dan cukup luas. Model kamarnya jadi mengingatkan saya akan kamar model kosan mahasiswa/i / karyawan. Karena hotelnya terbilang baru, kamarnya pun kelihatan bersih dan nyaman banget. Setelah menurunkan barang dari bagasi mobil kami segera masuk ke kamar masing2x, kegiatannya bersih-bersih dan mandi. Sekitar jam 6.30 WIB, mobil datang menjemput kami, acara kali ini adalah makan malam, di restoran pinggir pantai kota Manggar. Makan malam selesai jam 7.30 WIB, selanjutnya kami dengan pak Tata & pak Endi meneruskan jalan-jalan menggunakan mobil ke dalam pusat kota kecil Manggar. Di pusat kota Manggar ini banyak terdapat warung-warung kopi, di mana masyarakat Manggar sering kali berkumpul saat malam hari, menghabiskan waktu dengan mengobrol. Sebuah kegiatan yang cukup santai dan menarik terutama bagi kami yang merupakan "tamu" di sini. Akhirnya kita memilih duduk dan ngobrol santai di salah satu warung kopi, dari cerita pak Tata, warung kopi ini telah ada dari sejak tahun 60'an. Wah, lama juga ya usianya.. Saya dan rekan-rekan lalu memesan kopi hangat. Saya amati model warung kopi ini kelihatannya menjadi semacam "pusat informasi" yang sifatnya tidak resmi. Di sinilah masyarakat kota Manggar bisa berbaur tanpa dibedakan oleh status sosial. Ramai dan terasa hangat suasananya. Sekitar jam 9 malam, kami lalu kembali ke hotel The Begallor (area pom bensin) tempat kami menginap malam ini. Sampai di hotel saya segera bersih-bersih peralatan kamera, dan mencharge bateray untuk digunakan esok harinya. Badan terasa capek juga, akhirnya saya dan rekan-rekan tertidur di kamar hotel, sekitar pukul 10 malam. Tanggal 7 Juli 2008 Saya dikagetkan oleh alarm yang saya set di handphone saya. Segera saya cek, wah udah jam 4 subuh, segera saya bangun, hehehe.. terlihat dua orang rekan saya masih tertidur. Lalu saya segera menuju kamar mandi, mandi tentunya. Airnya lumayan hangat, terasa segar setelah mandi, keluar dari kamar mandi saya liat kedua rekan saya telah bangun. Gantian mereka mandi. Tepat jam 4.30 WIB pak Tata dan pak Endi menjemput kami, rencananya kita akan motret matahari terbit / Sunrise di pantai Manggar. Perjalanan menuju pantai tidak lama hanya sekitar 20 menit. Begitu tiba di lokasi, segera saya keluar dari mobil. Cuaca masih gelap, angin berhembus kencang, wah.. dingin juga, untung saya menggunakan jaket rompi jeans yang cukup tebal. Segera peralatan kamera dan tripod saya keluarkan, lalu kami berempat segera menuju ke area pasir di pinggir pantai. Hmm.. cahaya di langit masih kurang terang, matahari masih "sembunyi". Segera saya pasang tripod, pikiran saya, saatnya tripod ini berguna. Angin kencang dan penggunaan speed lambat dalam memotret, sangat membutuhkan bantuan tripod yang kuat dan tidak mudah goyang. Setelah matahari muncul secara utuh, sekitar jam 7.15 WIB, selesailah acara "motret sunrise" kami. Segera kami berempat kembali ke mobil yang ditunggui oleh pak Tata & pak Endi. Perjalanan lalu dilanjutkan menuju Pantai Burung Mandi, memakan waktu sekitar 30 menit. Setiba di lokasi kembali kami berempat bertebaran memotret pantai nelayan yang indah ini. Berikut foto-fotonya. Perjalanan lalu kami lanjutkan menuju ke kuil / wihara Dewi Kwan Im, tak jauh dari pantai Burung Mandi, sekitar 15 menit dengan mengendarai mobil. Sampai di kuil ini, kelihatan masih sepi, tapi ada satu orang penjaga kuil menghampiri dan menyapa kami. Kami lalu minta ijin untuk masuk ke dalam area kuil dan motret. Berikut foto kuil Kwan Im tersebut. Tak lama motret, sekitar 20 menit, hujan turun dengan derasnya. Saya dan rekan-rekan berteduh di area parkir kuil yang kebetulan beratapkan seng. Hmm.. melihat cuaca hujan ini sempat "turun" juga mood motret saya. Tapi ternyata hujan tidak lama, hanya sekitar 30 menit. Lalu cuaca berangsur terang lagi. Perjalanan lalu kami lanjutkan menuju ke Bukit Batu, lokasinya bisa dicapai dengan kendaraan mobil sekitar 30 menit. Tiba di lokasi, segera kami menurunkan peralatan fotografi, dan menyusuri jalan setapak (tanah) yang menurun. Tiba di area bukit yang berbatuan (karena itu dinamakan Bukit Batu), tepat di bawah bukit batu, pantainya terlihat cantik dan menarik. Penuh dengan bebatuan besar. Hmm.. saatnya bermain dengan filter infra red nih, pikir saya. Berikut foto-fotonya. Hmm.. karena proses motret menggunakan filter infra red cukup memakan waktu, saya baru selesai motret sekitar jam 11:00 WIB. Itupun karena matahari telah tertutup awan mendung, sehingga kurang cocok lagi untuk motret dengan menggunakan filter infra red. Saya lalu kembali ke area sawung kecil tepat di atas bukit batu. Rekan-rekan sudah menunggu rupanya. hehehehe.. sorry kelamaan. Sudah waktunya kita makan nih, tadi subuh di hotel tidak sempat sarapan, karena langsung ke pantai jam 5 subuh. Saat kembali ke mobil, hujan mulai turun, cukup deras juga. Akhirnya kami putuskan untuk sarapan (makan siang ??) di restoran di Bukit Batu. Menu makanannya variatif, ada yang mesan nasi goreng komplit. Tapi saya malah mesan indomie goreng, maklum pikiran saya nanti balik hotel makan lagi ;) hehehehehe.. Sekitar 45 menit kami habiskan waktu di restoran Bukit Batu, lalu ketika hujan telah berhenti. Kami lalu kembali ke hotel. Selesailah acara hunting fotografi kami selama 4 hari 3 malam, di pulau Belitung. Jam 13.30 WIB, kami checkout dari hotel the Begallor. Mobil lalu mengantar kami berempat menuju ke kota Tanjung Pandan di Belitung Barat. Perjalanan kali ini memakan waktu sekitar 45 menit. Sewaktu tiba di bandara Tanjung Pandan, hahahaha.. suasana masih sepi banget, kami lalu memutuskan untuk mencoba Bakmi Belitung di kota Tanjung Pandan.. hehehehe.. makan lagi. Tepat jam 15:00 WIB, kami telah berada di Bandara Tanjung Pandan, saya dan rekan-rekan lalu checkin dan mengurus barang untuk dimasukkan ke bagasi pesawat Sriwijaya Air. Kita lalu berpamitan ke pak Tata & pak Endi, saya sempat menelpon pak Suma, mengucapkan terima kasih atas bantuan guidenya selama kami di Belitung. Jam 16:30 WIB, kami berempat telah berada di dalam pesawat Sriwijaya Air menuju Jakarta, sekitar jam 17:25 WIB tiba di jakarta. Kembali ke peradaban, kembali ke rutinitas kerja lagi, pikir saya. hmm.. ;) Saya hanya berharap semoga bisa kembali ke Belitung lagi tahun depan, untuk acara hunting fotografi yang lain. Sebagai penutup, semoga catatan perjalanan hunting ini bisa memberi inspirasi buat para pecinta fotografi dan bisa menghasilkan karya-karya foto luar biasa selama perjalanan hunting anda. Di samping itu saya berharap / berdoa semoga keindahan pantai di kawasan Belitung tetap terjaga, dan harapan saya semoga pengunjungnya bisa menjaga kebersihan kawasan pantainya yang luar biasa indah itu. |
Daftar Blog Saya
Kamis, 03 Februari 2011
PuLau BeLiTunG (Laskar PeLanGi)
PuLau BuNakeN
TAMAN LAUT BUNAKEN - MANADO
Bunaken merupakan taman nasional dan salah satu daerah tujuan wisata bahari terpenting. Taman Nasional Bunaken I seluas 75.265 hektar, terdiri atas Pulau Bunaken, Manado Tua, Siladen, Montehage dan Naen. Taman Nasional Bunaken II seluas 13.800 hektar di ujung semenanjung Sulut, serta Pulau Lembeh dan pulau lainnya di sekitar kota Bitung.
Di Taman Nasional Bunaken yang dikembangkan sejak tahun 1975, memiliki sekitar 20 lokasi penyelaman atau diving spots. Selain terumbu karang dan segala satwa penghuninya, bangkai kapal yang tenggelam pada Perang Dunia II menjadi sebuah pesona Bunaken pula. Dari 20 titik selam itu, 12 titik selam di antaranya berada di sekitar Pulau Bunaken. Dua belas titik penyelaman inilah yang paling kerap dikunjungi penyelam dan pecinta keindahan pemandangan bawah laut.Sebagian besar dari 12 titik penyelaman di Pulau Bunaken berjajar dari bagian tenggara hingga bagian barat laut pulau tersebut. Di wilayah inilah terdapat underwater great walls, yang disebut juga hanging walls, atau dinding-dinding karang raksasa yang berdiri vertikal dan melengkung ke atas. Dinding karang ini juga menjadi sumber makanan bagi ikan-ikan di perairan sekitar Pulau Bunaken.
Cara pencapaian lokasi:Taman Nasional Bunaken dapat dicapai melalui Pelabuhan Manado, Marina Nusantara Diving Centre (NDC) di Kecamatan Molas dan Marina Blue Banter. Dari Pelabuhan Manado dengan menggunakan perahu motor menuju pulau Siladen dapat ditempuh + 20 menit, pulau Bunaken + 30 menit, pulau Montehage + 50 menit dan pulau Nain +60 menit. Dari Blue Banter Marina dengan menggunakan kapal pesiar yang tersedia menuju daerah wisata di pulau Bunaken dapat ditempuh dalam waktu 10-15 menit, sedangkan dari pelabuhan NDC menuju lokasi penyelaman di pulau Bunaken dengan menggunakan speed boat ditempuh dalam waktu + 20 menit.
PuLau KarimuN JaWa
Kepulauan Karimunjawa
Kabupaten Jepara terdiri dari 14 kecamatan, salah satu diantaranya adalah Kecamatan Karimunjawa. Salah satu wilayah kecamatan yang terdiri dari 3 desa merupakan gugusan dari 27 buah pulau yang ada dan terhampar luas di laut Jawa dengan jumlah penduduk sekitar 8.000 jiwa.
Kecamatan ini merupakan kawasan alam yang dilindungi karena memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik dalam bentuk flora, fauna, ekosistem merupak kondisi alam yang menjadukan Karimunjawa sebagai cagar laut yang sangat potensial.
1. ASAL NAMA KARIMUNJAWA
Sunan Nyamplungan merupakan tokoh cerita rakyat yang menarik tentang terjadinya nama Kepulauan Karimunjawa. Sunan Nyamplungan yang mempunyai nama asli Amir Hasan adalah putra Sunan Muria. Perkembangan kehidupan Amir Hasan dari kanak-kanak sampai dewasa selelu dimanjakan oleh Nyai Sunan Muria, walaupun perilaku Amir Hasan sehari-hari cenderung nakal. Melihat hal yang tidak menguntungkan terhadap diri Amir Hasan, Sunan Muria selalu menanamkan jiwa kedisiplinan dengan mengajarkan dasar-dasar agama Islam yang kuat, namun Amir Hasan cenderung pada kenakalan dan kemanjaannya sehingga menjadikan Sunan Muria dan Nyai Sunan Muria memutuskan untuk menitipkan Amir Hasan kepada pamannya, yaitu Sunan Kudus dengan harapan asuhan Sunan Kudus dapat diterima dan kelak menjadi orang yang baik dan soleh.
Selama dalam asuhan Sunan Kudus, Amir Hasan sudah mulai menunjukkan perubahan menjadi pemuda yang baik dan sangat taan melaksanakan ajaran/perintah Sunan Kudus. Melihat perkembangan yang demikian, Amir Hasan kemudian dikembalikan kepada Sunan Muria karena Sunan Kudus sudah merasa cukup membimbing dan mengajari berbagai ilmu khususnya mendalami ajaran agama Islam.
Setelah menerima laporan dari Sunan Kudus, Sunan Muria menjadi sangat bahagia karena anaknya mau mematuhi ajaran orang tua, k emudian untuk melatih dan mencobanya diperintahkan oleh Sunan Muria agar Amir Hasan pergi ke salah satu pulau yang kelihatan dari puncak gunung Muria seperti kremun – kremun dengan desertai 2 orang abdi untuk menemani dan diberi bekal 2 biji buah nyamplung untuk ditanam dan berbagai macam barang antara lain : Mustaka Masjid yang saat ini masih ada dalam komplek makam beliau. Perjalanan Amir Hasan yang memakan waktu lama dengan menyebrang laut itupun akhirnya sampai di tempat yang dituju di sebuah pulau , kemudian Amir Hasan menetap disana dan pulau ini kelak bernama KARIMUNJAWA.
Pulau yang terlihat kremun – kremun dan masih merupakan kawasan kepulauan jawa , dipakai sebagai tempat tinggal Amir Hasan, terdapat beberapa pohon nyamplung, maka sampai sekarang masyarakat menyebut Amir Hasan dengan nama “ SUNAN NYAMPLUNGAN “
2. LELE TIDAK PUNYA PATIL
Melihat putranya tidak dirumah maka Nyai Sunana Muria menanyakan kepada Sunan Muria dan diberi jawaban bahwa Amir Hasan disuruh pergi dari rumah menuju kesebuah pulau yang berada disebelah utara Pulau Jawa, maka Nyai Sunan menjadi terkejut dan mohon ijin untuk nyusuk guna memberi bekal dijalan.
Teringat akan makanan kesukaan putranya yaitu pecel lele, maka dibawakan pecel lele oleh Nyai Sunan dengan dengan harapan untuk membarikan kesenangan dalam perjalanan. Namun setelah dipantai ternyata Amir Hasan dan kedua abdinya sudah berlayar dilautan, maka oleh sang ibu pecel lele itu lalu dibuangke laut.
Bungkusan pecel lele tersebut terbawa ombak dan atas kehendak Tuhan mengikuti perjalanan Amir Hasan sampai pula dipulau yang dituju oleh Amir Hasan. Ikan – ikan lele yang berada di Karimunjawa semuanya tidak mempunyai patil, area ini sekarang dikenal dengan nama Legon Lele yaitu di bagian timur dari Pulau karimunjawa.
3. SIPUT BOLONG
Pada waktu Nyai Sunan Muria membewakan pecel lele saat menyusul putranya ke Pantai Jepara, juga dimasakan oleh beliau makanan kesukaan Amir Hasan yang lain, yaitu makanan siput.
Rasa kecewa Nyai Sunan Muria yang tidak berhasil menyusul putranya yang berangkat menuju Karimunjawa dilampiaskan beliau dengan melemparkan pecel lele dan makanan siput tersebut ke laut.
Sama halnya dengan masakan pecel lele maka masakan siput ini pun terdampar di perairan Karimunjawa yaitu di legon lele ini memiliki cirri khas yaitu punggungnya bolong (berlubang) dan terkenal dengan nama “SIPUT BOLONG”.
4. ULAR BUTA
Diriwayatkan pada waktu Amir Hasan yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Nyamplungan telah sampai di Karimunjawa, maka beliau memasuki daratan mencari tempat yang sesuai untuk kepentingannya guna memperdalam ajaran agama Islam dan sekaligus mengembangkanya.
Pada suatu ketika beliau sedang berjalan ternyata ada seekor ular yang bertubuh pendek dan berwarna serta sangat berbisa mencoba untuk menggigit beliau namun ternyata tidak mempan. Akibat dari peristiwa itu Sang Sunan menjadi marah dan mengutuk ular tersebut menjadi buta, karena dianggap menggigit sembarang orang.
Sampai sekarang jenis ular ini yang dikenal dengan nama “ULAR EDOR” matanya buta, umumnya tidak mampu untuk bergerak di siang hari.
5. KAYU DEWA DARU
Apabila kita berkunjung ke Makam Sunan Nyamplungan yang terletak di puncak gunung Karimunjawa sebelah utara, maka di pintu gerbang akan kita jumpai dua pohon yang sangat besar dan oleh masyarakat dikenal sebagai “KAYU DEWA”.
Menurut kepercayaan masyarakat yang saat ini masih diyakini, bahwa kayu dewadaru ini masih dikeramatkan dan mempunyai khasiat tersendiri, yaitu barang siapa menyimpan kayu tersebut di rumah, maka yang menyimpan akan terhindar dari ancaman pencuri / orang yang akan bertindak jahat.
Kayu dewadaru ini apabila diletakkan di air, tidak terapung seperti jenis kayu lain akan tetapi kayu tersebut akan tenggelam serta setiap orang tidak berani membawa kayu dewadaru keluar pulau Karimunjawa, karena takut akan bahaya yang akan menimpa di perjalanan.
6. KAYU SETIGI
Di atas telah disebutkan bahwa pada saat itu Karimunjawa masih berupa hutan belantara yang belum pernah dijamah oleh tangan manusia. Disana banyak terdapat berbagai tanaman yang tumbuh dan hewan/ binatang liar yang ganas dan salah satunya adalah jenis ular edor. Konon pernah dikisahkan bahwa ketika Amir Hasan (Sunan Nyamplungan) mengadakan perjalanan di hutan, di tengah-tengah perjalanan beliau digigit seekor ular berbisa, namun ternyata gigitan ular tersebut tidak mampu melemahkan kekuatan Sunan Nyamplungan. Setelah terkena gigitan itu Sang Sunan menjadi marah dan bersabda sambil menunjuk ke arah ular dengan memegang tongkat kayu setigi. Akibat dari sabda Sunan, sang ular menjadi rabun.
Catatan khusus : kayu setigi akan tenggelam ke dasar yang paling bawah bila dimasukkan air dan bisa pula menyerap bisa/racun binatang.
7. KAYU KALIMASADA
Selain kedua jenis kayu tersebut yaitu kayu dewadaru dan kayu setigi, masih ada jenis kayu lain yang sama-sama mempunyai tuah dan legenda kayu ini disebut dengan kayu Kalimasada. Memang pada masa keberadaan Sang Sunan di Karimunjawa banyak kejadian/peristiwa mitos yang sulit dipahami dengan akal dan pikiran layaknya manusia biasa. Ada yang berpendapat bahwa kayu tersebut juga dapat digunakan oleh orang-orang pintar dengan cara memasukan do’a/mantra sesuai dengan keinginan masing – masing.
POTENSI KHUSUS KARIMUNJAWA
Taman Nasional Laut Karimunjawa termasuk wilayah Kabupaten Jepara, yang terdiri dari 1 kecamatan, 3 desa dan 27 pulau (5 pulau berpenghuni, 22 pulau kosong) terdiri dari beberapa suku, adapun jarak Jepara Karimunjawa adalah 48 mil laut.
DAYA TARIK KHUSUS BAGI WISATAWAN
Taman Nasional Laut Karimunjawa mwmang memiliki daya tarik tersendiri dan sangat cocok untuk “Wisata Bahari”. Berbagai daya tarik yang unik bisa kita temukan antara lain :
- Panorama laut yang indah bagai telaga warna dengan gugusan kepulauan yang tersebar sejauh mata memandang. Disertai jernihnya air laut yang belum tercemar (terkena polusi).
- Hamparan pasir putih yang membentang di kawasan pantai maupun di seluruh pulau-pulau.
- Dapat melakukan kegiatan hiking, snorkeling, diving, fishing/ memancing, dayung dan sebagainya.
- Menikmati keindahan biota laut dengan aneka ragam ikan hias dan bermacam karang laut yang menarik.
- Masih terdapat jenis satwa langka seperti menjangan, trenggiling, landak, ular edor, bhurung garuda, dan ikan lele tanpa patil,dsb.
- Gunung dengan penghijauannya hutan tertutup yang masih perawan.
- Dapat menyaksikan ikan hiu, kerapu, lemuna, teripang di karamba, silakan bawa makanan (ikan kecil) untuk dihadiahkan kepada ikan-ikan tersebut.
- Bila perjalanan memakai kapal laut, dapat menyaksikan iringan ikan lumba-lumba di sebelah menyebelah kapal.
PuLau keLoR
| Pulau Kelor, Pulau Kecil Nan Eksotis | untuk |
Abrasi, terkikis air laut, itulah gambaran pulau kecil ini. Memang bentuknya tidak besar. Bahkan dalam foto masa silamnya, ketika Belanda masih bercokol di bumi pertiwi, pulau ini tetap kecil. Bila saja tidak terdapat beton-beton penahan gelombang, pulau ini mungkin sudah tenggelam. Beruntung benteng Martello yang berdiri kukuh yang membuat pulau ini layak dilindungi. Peninggalan masa silamnya harusnya membuat kita melakukan upaya dan tidak membiarkan Pulau Kelor tenggelam ditelan lautan.
Pulau Kelor, itulah nama pulau ini. Seperti halnya pepatah kuno, “Dunia tidak selebar daun kelor” memang identik dengan pulau ini. Daun kelor memang bentuknya kecil-kecil. Penamaan Pulau Kelor memang cocok untuk pulau ini. Kecil, tersendiri dan seperti menyembul dari permukaan laut.
Dahulu Pulau Kelor adalah salah satu benteng pertahanan Hindia Belanda yang memusatkan kegiatannya di Pulau Onrust. Setidaknya ada tiga benteng Martello di tiga gugusan pulau yaitu Pulau Kelor itu sendiri, Pulau Bidadari dan Pulau Onrust. Hanya dua yang masih meninggalkan jejaknya sementara benteng yang di Pulau Onrust sudah hilang jejaknya akibat penjarahan besar-besaran di tahun enam puluhan. Yang tersisa hanya sebuah lubang dengan sebuah plang yang menandakan disitulah dulu sebuah benteng bulat berdiri.
Di Pulau Bidadari benteng Martellonya tinggal separuh saja. Setengahnya rusak karena terhempas oleh gelombang pasang sewaktu gunung Krakatau meletus. Sementara di Pulau Kelor, benteng Martellonya cenderung masih utuh. Lubang-lubang jendelanya masih utuh bentuknya. Bahkan bagian dek/ lantai atas benteng, yang pada zaman itu menggunakan kayu, terlihat bekas-bekas dudukannya walau hanya berbentuk lubang-lubang seukuran balok kayu.
Pulau Kelor tidak memiliki dermaga sehingga menyulitkan kapal/ perahu merapat di pulau ini. Sisa-sisa dermaganya memang ada tetapi tidak adanya perawatan membuat sembilan puluh lima persen rusak. Akibatnya, dermaga tidak bisa sama sekali digunakan. Kalaupun ingin merapat ke pulau ini, harus pagi hari atau setidaknya sebelum tengah hari. Kabar yang pernah saya dapatkan adalah posisi pantai tidak memungkinkan didarati bila gelombangnya besar. Kapal bisa membentur bagian pulau yang berisi batuan-batuan pemecah gelombang atau menghantam dermaga yang rusak. Bisa juga kapalnya terjungkal karena adanya gelombang tidak memungkinkan bagian depan kapal menyentuh pantai berpasir di daratan pulau.
Posisi yang menyamping karena hempasan gelombang membuat kapal bisa limbung karenanya. Itulah sebabnya setelah gelombang datang, tidak akan ada kapal yang merapat ke pulau ini. Pemandu wisata di Pulau Onrust juga berpesan seperti itu. “Jika gelombang belum ada, mendaratlah ke Pulau Kelor. Kalau sudah datang gelombang, tidak perlu mampir di Pulau Kelor karena berbahaya.”
Lepas dari cerita-cerita diatas, Pulau Kelor tetaplah sebuah pulau kecil yang eksostis. Pulau yang dari kejauhan yang memperlihatkan kemegahan benteng Martellonya ternyata menyimpan daya darik tersendiri untuk mengunjunginya. Semoga dalam pelayaran yang akan datang, saya akan sempat menginjakkan kaki di pulau kecil yang menarik ini
PuLau CipiR (kahyangaN)
Pulau Cipir (Khayangan)
Di ujung pulau ini terdapat beberapa pondasi Jembatan Ponton. Peninggalan bersejarah ini, diperkirakan telah ada sejak tahun 1911. Saat air laut surut, nampaklah susunan batu bata merah yang tersusun sebagai pondasi dermaga kecil di Pulau Kahyangan. Dulunya setelah Indonesia merdeka dermaga ini digunakan sebagai penerimaan kedatangan para jemaah haji untuk dikarantina.
Sayang, pulau yang indah ini, belum dilengkapi sarana penginapan. Pengunjung yang ingin bermalam, harus membawa tenda dan peralatan camping sendiri.
PuLau seMak DauN
Atas inisiatif dari mas Edi, supervisor Inbound, maka diadakanlah acara jalan jalan. Dan lokasi yang dituju adalah Pulau Seribu/ Kepulauan Seribu, Jakarta. Di sela sela kesibukan kantor yang luar biasa, kami jadi berangkat ke Pulau Seribu. Kira kira jam 6 pagi saya dan 5 orang teman lainnya naik Transjakarta (busway) dengan tarif Rp.3500 menuju ke arah Ancol. Rutenya dari Daan Mogot-Harmoni-Senen-Ancol (kalo nggak salah :) ). Dan inilah pengalaman pertama saya naik Busway, saya baru tahu kalau dengan Rp.3500 kita bisa berkeliling jakarta.
Perjalanan berlangsung aman terkendali. Setelah kurang lebih 1 jam kami tiba di Ancol, kemudian membayar biaya masuk ke Ancol Rp.10000 (tahun 2007).
Untuk ke Kepulauan Seribu kita harus menuju Ke Dermaga marina Ancol yang masih di area Kawasan wisata Ancol. Setelah berjalan kaki 15 menit, kami sampai di dermaga. Disitu berjejer dari dermaga 1 sampai dengan dermaga 23 (paling ujung).
Saya lupa di dermaga mana jika harus ke Kepulauan Seribu, anda bisa bertanya kepada orang orang yang ada disitu. Belakangan saya baru tahu, ternyata kita juga bisa pergi ke Kepulauan Seribu melalui Muara Angke.
Kami harus naik speedboat untuk sampai ke kepulauan seribu. Satu persatu kami mulai masuk ke Speedboat, setelah terisi sekitar 30 penumpang, speedboat mulai melaju ke Kepulauan Seribu. Meskipun dilengkapi dengan pelampung, tapi ini adalah pengalaman pertama naik speedboat di laut lepas, saya agak takut juga he he.
Berapa tarifnya saya nggak tahu, karena saya sudah bayar 125.000 untuk biaya selama jalan jalan ke Kepulauan Seribu meliputi, transport, penginapan, makan dll.
Perlahan lahan Speedboat meninggalkan kota Jakarta, gedung gedung tinggi sudah mulai hilang dari pandangan, berganti dengan birunya air laut. Dan kepenatan, kesibukan kota Jakarta sejenak terlupa seiring menjauhnya Speedboat kami. Selama perjalanan, ternyata hujan turun cukup lebat, karena takut maka hampir semua penumpang mulai memakai pelampung yang sudah disediakan. Kami bisa melihat air hujan yang jatuh kelaut begitu derasnya dan terkadang justru menakutkan, bayangan akan indahnya lautan lenyap saat itu. Terkadang speedboat kami juga bertabrakan dengan ombak.
Setelah 2 jam mungkin, kami tiba juga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.Kami turun dari Speedboat dan berjalan 300 m menuju ke penginapan kami, yang ternyata terletak di depan dermaga Pulau Pramuka. Jarak dermaga hanya 50 m dari penginapan kami. Waaah senengnya punya rumah dekat dengan laut.
Ganti baju saya langsung aja menceburkan diri di perairan dermaga Pulau Pramuka, yang kebetulan sedang sepi, Ditemani anak anak kecil yang mungkin sudah terbiasa dengan laut. Huahh..Seger badan bisa mandi dilaut. Ehggak taunya gatal kena ubur ubur....
Setelah makan siang dengan menu makanan laut, kegiatan dimulai dengan snorkeling di Pulau Semak Daun. Dari Pulau Pramuka, kami naik ojek menuju kearah Pulau Pramuka. Tak lupa kami menyewa perlengkapan Snorkeling. Perlahan Ojek perahu dengan 20an penumpang mulai meninggalkan Pulau Pramuka menuju Pulau Semak Daun.
Dari perahu saya melihat hamparan laut biru yang membentang begitu luasnya. Terasa nyaman, saat wajah tersapu angin dan sesekali percikan air membasahi wajah. Ketika perahu berjalan pelan, tak tahan, saya mencelupkan kaki di perairan Pulau Seribu. Teman teman yang sudah siap dengan peralatan snorkeling bahkan segera menceburkan diri karena sudah tidak sabar.
Saya yang baru kali ini akan melakukan snorkeling menunggu sampai perahu berhenti. Dalam waktu yang relatif singkat, kami tiba di Pulau Semak Daun. Inilah foto Pulau Semak Daun.
Ternyata memang benar pulau ini hanya terdiri dari semak dan daun. Kami diarahkan oleh pemandu wisata ke pulau ini, karena kondisi pulau ini cocok untuk para pemula belajar snorkeling. Lagi lagi saya menatap hamparan laut biru dengan kerlipan cahaya matahari yang terpantul. Pokoknya kereen..
Kemudian
saya memakai perlengkapan snorkeling yang terdiri dari masker, snorkel, dan kaki katak. Dan mulailah saya mengelilingi perairan sekitar Pulau Semak Daun. Saya memang hobi renang, tapi baru kali ini melakukan snorkeling.
Rasanya memang benar benar melihat keindahan lain dari lautan Indonesia. Rasanya seperti melihat aquarium, tapi aquarium raksasa, ada ikan ikan kecil yang sesekali lewat. sedang asyik menikmati pemandangan bawah laut, samar samar terdengar ada yang kakinya tertusuk bulu babi. "Bulu Babi" adalah suatu binatang laut yang 95% tubuhnya terdiri dari duri-duri. Duri-duri yang "sedikit" beracun ini sangatlah rapuh. Dan kalau terkena kaki/ tangan cara mengobatinya adalah dengan urin? ha Urin yang bener? air kencing ya? ya ya bener. Karna Urin mengandung amoniak.
PuLau PrAmuKa
| Selamat Datang di Pulau Pramuka |
Wisata laut yang luar biasa ini tidak lepas dari peran Anda sekalian untuk menjaga kelestariannya. Mari kita rawat dan cintai wisata dalam negeri kita Indonesia, mulai dari menjaga kebersihan laut, tidak membuang sampah sembarangan di laut, menjaga terumbu karang, menjaga biota laut dan tidak mengambil pasir laut. Selamat berwisata dan menikmati keindahan alam Kepulauan Seribu! Pulau Pramuka adalah salah satu gugusan Kepulauan Seribu yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten administrasi Kepulauan Seribu. Dengan menempuh jalur laut selama 2,5 jam dari Muara Angke dengan menggunakan kapal transportasi kita akan sampai di dermaga Pulau Pramuka. Kapal transportasi ini berangkat setiap harinya pukul 07:00 dan 13:00 baik dari Muara Angke atau Pulau Pramuka. Pulau Pramuka sendiri merupakan pulau berpenduduk yang mulai berkembang menjadi daerah pariwisata beberapa tahun belakangan ini karena keindahan alam di sekitar pulau ini dan penduduk yang ramah. Jernihnya air laut yang biru, terumbu-terumbu karang yang indah dan pulau pasir putih di sekitar membuat setiap orang yang pernah pergi ke pulau ini ingin kembali lagi ke Pulau Pramuka. Yang luar biasa dan membuat kita lebih nyaman di pulau ini adalah keramahan penduduk sekitar yang sering membantu, menyapa dan tersenyum kepada para wisatawan. Memang sudah menjadi kebiasaan penduduk sekitar untuk saling membantu sesama karena hubungan persaudaraan masih sangat dekat antara warga yang satu dan yang lain. Maka jangan heran apabila suatu hari Anda kembali lagi ke Pulau Pramuka penduduk pulau ini akan menyapa Anda walaupun Anda sudah lupa kepada mereka :) Yang menjadi poin utama dari wisata Pulau Pramuka ini adalah gugusan terumbu karang yang tersebar di sekitar Pulau Pramuka. Dengan menggunakan baju pelampung, sepatu katak, masker dan snorkle kita akan bisa melihat keindahan terumbu karang berwarna-warni secara langsung dan ikan-ikan hias yang berenang di terumbu karang juga sangat indah. Pengalaman Anda snorkling di Pulau Pramuka akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan dalam hidup Anda. |
Langganan:
Postingan (Atom)
